Tembe Nggoli
Tembe Nggoli seringkali digunakan sebagai pakaian adat masyarakat suku mbojo yang dapat menjadi berbagai macam bentuk seperti; kerudungnya kaum perempuan atau disebut sebagai rimpu serta menjadi penutup bagi kalangan laki-laki dan perempuan saat melakukan aktivitas di dalam dan diluar ruangan. Bagi orang Bima, memakai sarung lazim dilakukan baik oleh kaum pria maupun wanita.
Tembe nggoli tersebut kini terus dilestarikan oleh masyarakat suku mbojo, pada tahun 2016 salah satu SMA di kabupaten Bima yaitu SMAN 1 Woha telah menunjukan bentuk partisipasinya dalam melestarikan salah satu kebudayaan masyarakat suku mbojo yaitu memakai tembe nggoli. Kini Sekolah tersebut mewajibkan bagi setiap siswa untuk menggunakan tembe nggoli pada hari jum’at. Hal tersebut dilakukan agar para siswa ikut berpartisipasi dalam melestarikan dan mempertahankan budaya yang dimiliki oleh masyarakat suku mbojo.
Kini tembe nggoli tidak hanya dikenal dikalangan masyarakat lokal melainkan diberbagai daerah contohnya para desainer di Jakarta telah menggunakan tembe nggoli menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ide rancangan busana yang telah digagasnya. Hal tersebut menunjukan bahwa kekayaan suku mbojo memiliki potensi serta keunikan tersendiri sehingga hal tersebut perlu diapresiasi dalam bentuk rumah budaya yang memang sengaja untuk dijadikan sebagai wadah dalam menampilkan dan melestarikan keunikan dan berbagai ciri khas milik masyarakat suku mbojo.
Maka dengan demikian, sudah sepatutnya peran melestarikan tersebut tidak hanya berhenti pada kalangan pemerintah saja, melainkan perlu adanya dukungan dan partisipasi dari masyarakat suku Mbojo, maka dengan terus menggunakan tembe nggoli diberbagai kegiatan di dalam maupun luar daerah maka pada dasarnya masyarakat suku mbojo telah ikut membantu dalam mempertahankan keasilian budaya suku mbojo.
Sejarah Singkat Rimpu
Awal pertama kali munculnya Rimpu dibima seiring masuknya penyebaran Islam pada hari kamis tanggal 5 juli 1640 M, atau bertepatan pada tanggal 15 Rabiúl Awal 1050 H. Rimpu Mbojo merupakan busana adat tradisional yang mengenangkan perkembangan adat harian yang telah mendasari munculnya perkembangan keagamaan setelah berkembangnya masa kesultanan sebagai indentitas wanita muslim Mbojo pada zaman dulu. Di mana masayarakat Mbojo pada waktu penyebaran ajaran Islam, rimpu menjadikan suatu polararitas keagamaan mereka dalam rangka mengembangkan suku budaya.
Masuknya Rimpu dibima sangatlah kental setelah muncul peradaban dan penyebaran Islam di disuatu wilayah Bima, Kabupaten Bermatoka Maja Labo Dahu. Di mana wanita Dana Mbojo mamakai Rimpu setelah datangnya pedagang islam ke Bima dengan mengedentikan pakain Arab. Arab yang dikenal sebagai Agama Islam yang patuh dianut. Konon, Rimpu menjadikan salah satu pra sejarah bima setelah munculnya ajaran islam oleh kedua datuk. Ke dua datuk ini, bernama Datuk Dibanda dan Datuk Ri Tiro. Selain Di Bima, kedua Datuk ini dikenal sebagai tokoh utama yang menyeber agama Islam di Pulau Sulawesi.
Masyarakat Bima (mbojo), Rimpu menjadi salah satu struktur sejarah sosial pada saat itu. Ini menjadikan sebuah toleransi wanita mbojo maupun para lelaki untuk meningkatkan kebudayaan dan ajaran yang dianut oleh mereka saat itu. Rimpu merupakan pakaian yang menutup aurat orang bima pada zaman dulu. Rimpu menjadikan salah bahan pemakian yang digunakan untuk menutup aurat oleh kaum wanita masyarakat Mbojo saat itu.Rimpu memilki banyak manfaat dan kegunaannya. Dimana kegunaan dan manfaat rimpu pada zaman dulu yaitu : 1. Dipakai saat acara resmi, 2. Dan bisa juga dipakai saat orang meninggal dunia dan lain-lain. Orang Mbojo, rimpu merupakan salah satu pakaian yang sangat memiliki nilai moral, sosial,kesopanan, dan keagamaan cukup kuat. Dan ini moyoritas masyarakat mbojo dalam mengembangka adat-adat istiadat dan tradisi budaya. Sehingga rimpu dulu, dikenal sebagai penguat keagamaan mereka pada peredaban zaman dulu ketika mulai masuknya penyebaran islam di Bima.
Dikalangan masyarakat Mbojo, rimpu dikenal dua macam yaitu rimpu cilik dan rimpu colo. Dimana rimpu cilik biasanya dipakai oleh kaum wanita muda maupun remaja. Sedangkan rimpu colo biasanya digunakan oleh kaum ibu-ibu yang sudah bersuami. Konon, kaum wanita mbojo dulu, rimpu harus dipakai ketika mereka keluar rumah. Jika tidak mereka telah melanggar hukum moral. ini diungkapkan langsung oleh Nur Farhaty Ghani dari forum perempuan (forpuan) Bima. Bukan itu saja, mereka telah melagar hukum keagaam dan adat istiadat. Akan tetapi, kaum wanita mbojo dulu tetap akan mengingat pada pelanggaran tersebut. Sebab keyakinan dan kepercayaan mereka telah menjadikan suatu kokohannya dalam mengebangkan dan menegakkan polaralitas keagamaannya.
Mbojo sangat dikenal banyak wanita pemakai rimpu, sebab rimpu memberikan suatu lambang dan polaritas sosial yang sangat tinggi. Dimana orang mbojo, ketika memakai rimpu tersebur terasa nyaman. Ini menjadikan salah satu spritual quotion oleh kaum wanita mbojo dalam menghadapi erat perkembangan kondisi zaman. Dalam mewujudkan hal semacam ini, mbojo harus mendirikan kayakinan yang kuat dalam memperetkan budaya dan adat istiadat mereka selanjutnya. Sungguh sangat menakjubkan jika masyarakat mbojo mepertahankan tradisi adat dan kebudayaan seperti ini. Sehingga mampu memperkokoh dan mempermudah untuk menciptakan kebudayaan dan adat istiadat yang penuh dengan keharmonisan.
Rimpu merupakan sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima (Dou Mbojo). Budaya "rimpu" telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima ada. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khasyang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam). (wikipedia 2008)
Rimpu adalah cara berbusana masyarakat Bima yang menggunakan sarung khas Bima. Rimpu merupakan rangkaian pakaian yang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi ”katente” (menggulungkan sarung di pinggang). Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima dikenal sebagai Tembe Nggoli (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Bima yang dikenal dengan Muna. Sementara sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon). ( M.Hilir Ismail 2005)
Rimpu adalah cara berpakaian kaum wanita di Bima - Dompu (Dou Mbojo), yaitu menggunakan kain sarung untuk menutupi kepala dan badan, sehingga yang terlihat hanya wajah, atau bahkan hanya bagian mata. ( Malik Hasan Mahmud 2009)
Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua lembar sarung yang bertujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok. Sesuai penggunaannya. ( Maryam 2005)
Rimpu juga adalah sebuah bentuk pakaian yang sopan. Tentu makna kesopanan sangat relatif tergantung bagaimana masyarakat setempat memaknainya, seperti contoh pada suku Asmat di Irian Jaya, kesopanan tidak dinilai dari pakaian. Wanita dan laki-laki bebas bertelanjang dan hanya satu bagian saja dari tubuh mereka yang terbalut pakaian. Itulah yang disepakati oleh mereka. Tapi fakta tersebut tentu saja suatu perkecualian. ( Nurfaraty 2010)
Distribusi politik identitas keislaman mulai didesign sedemikian rupa oleh para mubalig, yaitu berupaya untuk memadukan budaya lokal. Seiring dengan berjalannya waktu, maka identitas itu menjadi icon tersediri guna membangun budaya baru dikalanganmasyarakat mbojo. Icon ini sedikit demi sedikit mulai disosialisasikan dikalangan istana dengan proses penetrasi yang rumit sehingga membutuhkan strategi dan upaya, yang pada akhirnya merambah ke lapisan masyarakat bawah.
Rimpu digunakan oleh mereka yang sudah balig atau menikah, dalam agama atau trend sekarang disama artikan dengan kerudung. Namun pada beberapa refrensi, kerudung di Indonesia baru terkenal pada tahun 1980-an. Rimpu memiliki multifungsi dalam menyikapi jamannya pada saat itu. Pertama, rimpu merupakan identitas keagamaan, sehingga pada bagian ini dengan adanya perkembangan dakwah di Bima yang cukup pesat, maka kaum wanita mulai mempelajari dan memaknainya sebagai suatu nilai-nilai luhur.
Kedua, Rimpu dikombinasikan dengan budaya lokal masyarakat pada saat itu yaitu kebiasaan menggunakan sarung tenun dalam aktifitas sosial. Intergrasi ini menjadikan icon budaya Bima yang mulai berkembang. Ketiga, Proteksi diri kaum hawa ketika melakukan interaksi sosial. Klimaks kondisi ini terjadi ketika jaman kolonial Belanda dan Jepang. Keempat, rimpu merupakan alat pelindung terhadap kondisi lingkungan yang buruk, disisi lain juga Pembajakan Makna dan Budaya. Rimpu, terdiri dari 2 model, yaitu pertama Rimpu mpida,, khusus buat gadis Bima atau yg belum berkeluarga. Model ini juga sering disebut cadar ala Bima,, Dalam kebudayaan masyarakat Bima, wanita yg belum menikah tidak boleh memperlihatkan wajahnya, tapi bukan berarti gerak-geraknya dibatasi. Hal ini menunjukan budaya yang diciptakan oleh para mubalig sudah mengakar sampai pelosok desa. Namun dengan moderenisasi yang salah diartikan membuat identititas tersebut rapuh termakan jaman, sungguh menyayangkan. Kedua Rimpu colo,, rimpu jenis ini diperuntukan buat ibu-ibu rumah tangga. Toleransi agar mukanya sudah boleh kelihatan oleh masyarakat luas. Di pasar-pasar tradisional, masih bisa ditemukan ibu-ibu yang memakai rimpu dengan sarung khas dari bima (tembe nggoli).
Kesimpulan
Budaya rimpu merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri khas masyarakat Bima. Rimpu bagi kaum wanita di Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai Rimpu Mpida—yang artinya seluruh anggota badan terselubung kain sarung dan hanya mata yang dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka kemudian menyisakan ruang terbuka pada bagian mata. Sedangkan bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai Rimpu Colo. Dimana bagian muka semua terbuka. Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada bagian perut dan membentuknya.
Perempuan-perempuan Bima enggan untuk keluar rumah jika tidak mengenakan Rimpu, ia tidak saja budaya tapi implementasi dari syariat islam.
Sumber :
- Bima Center. 2012. Tembe Nggoli
- Rihlah Nur Aulia, Rimpu: Budaya Dalam Dimensi Busana Bercadar Perempuan Bima
- Nurfati , Mengenal Budaya Rimpu Pada Perempuan Bima Bima: 2010 ( tidak di terbikan makalah pada diskusi kebudayaan yang di selenggarakan oleh forum perempuan Bima)
Tembe Nggoli seringkali digunakan sebagai pakaian adat masyarakat suku mbojo yang dapat menjadi berbagai macam bentuk seperti; kerudungnya kaum perempuan atau disebut sebagai rimpu serta menjadi penutup bagi kalangan laki-laki dan perempuan saat melakukan aktivitas di dalam dan diluar ruangan. Bagi orang Bima, memakai sarung lazim dilakukan baik oleh kaum pria maupun wanita.
Tembe nggoli tersebut kini terus dilestarikan oleh masyarakat suku mbojo, pada tahun 2016 salah satu SMA di kabupaten Bima yaitu SMAN 1 Woha telah menunjukan bentuk partisipasinya dalam melestarikan salah satu kebudayaan masyarakat suku mbojo yaitu memakai tembe nggoli. Kini Sekolah tersebut mewajibkan bagi setiap siswa untuk menggunakan tembe nggoli pada hari jum’at. Hal tersebut dilakukan agar para siswa ikut berpartisipasi dalam melestarikan dan mempertahankan budaya yang dimiliki oleh masyarakat suku mbojo.
Kini tembe nggoli tidak hanya dikenal dikalangan masyarakat lokal melainkan diberbagai daerah contohnya para desainer di Jakarta telah menggunakan tembe nggoli menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ide rancangan busana yang telah digagasnya. Hal tersebut menunjukan bahwa kekayaan suku mbojo memiliki potensi serta keunikan tersendiri sehingga hal tersebut perlu diapresiasi dalam bentuk rumah budaya yang memang sengaja untuk dijadikan sebagai wadah dalam menampilkan dan melestarikan keunikan dan berbagai ciri khas milik masyarakat suku mbojo.
Maka dengan demikian, sudah sepatutnya peran melestarikan tersebut tidak hanya berhenti pada kalangan pemerintah saja, melainkan perlu adanya dukungan dan partisipasi dari masyarakat suku Mbojo, maka dengan terus menggunakan tembe nggoli diberbagai kegiatan di dalam maupun luar daerah maka pada dasarnya masyarakat suku mbojo telah ikut membantu dalam mempertahankan keasilian budaya suku mbojo.
Sejarah Singkat Rimpu
Awal pertama kali munculnya Rimpu dibima seiring masuknya penyebaran Islam pada hari kamis tanggal 5 juli 1640 M, atau bertepatan pada tanggal 15 Rabiúl Awal 1050 H. Rimpu Mbojo merupakan busana adat tradisional yang mengenangkan perkembangan adat harian yang telah mendasari munculnya perkembangan keagamaan setelah berkembangnya masa kesultanan sebagai indentitas wanita muslim Mbojo pada zaman dulu. Di mana masayarakat Mbojo pada waktu penyebaran ajaran Islam, rimpu menjadikan suatu polararitas keagamaan mereka dalam rangka mengembangkan suku budaya.
Masuknya Rimpu dibima sangatlah kental setelah muncul peradaban dan penyebaran Islam di disuatu wilayah Bima, Kabupaten Bermatoka Maja Labo Dahu. Di mana wanita Dana Mbojo mamakai Rimpu setelah datangnya pedagang islam ke Bima dengan mengedentikan pakain Arab. Arab yang dikenal sebagai Agama Islam yang patuh dianut. Konon, Rimpu menjadikan salah satu pra sejarah bima setelah munculnya ajaran islam oleh kedua datuk. Ke dua datuk ini, bernama Datuk Dibanda dan Datuk Ri Tiro. Selain Di Bima, kedua Datuk ini dikenal sebagai tokoh utama yang menyeber agama Islam di Pulau Sulawesi.
Masyarakat Bima (mbojo), Rimpu menjadi salah satu struktur sejarah sosial pada saat itu. Ini menjadikan sebuah toleransi wanita mbojo maupun para lelaki untuk meningkatkan kebudayaan dan ajaran yang dianut oleh mereka saat itu. Rimpu merupakan pakaian yang menutup aurat orang bima pada zaman dulu. Rimpu menjadikan salah bahan pemakian yang digunakan untuk menutup aurat oleh kaum wanita masyarakat Mbojo saat itu.Rimpu memilki banyak manfaat dan kegunaannya. Dimana kegunaan dan manfaat rimpu pada zaman dulu yaitu : 1. Dipakai saat acara resmi, 2. Dan bisa juga dipakai saat orang meninggal dunia dan lain-lain. Orang Mbojo, rimpu merupakan salah satu pakaian yang sangat memiliki nilai moral, sosial,kesopanan, dan keagamaan cukup kuat. Dan ini moyoritas masyarakat mbojo dalam mengembangka adat-adat istiadat dan tradisi budaya. Sehingga rimpu dulu, dikenal sebagai penguat keagamaan mereka pada peredaban zaman dulu ketika mulai masuknya penyebaran islam di Bima.
Dikalangan masyarakat Mbojo, rimpu dikenal dua macam yaitu rimpu cilik dan rimpu colo. Dimana rimpu cilik biasanya dipakai oleh kaum wanita muda maupun remaja. Sedangkan rimpu colo biasanya digunakan oleh kaum ibu-ibu yang sudah bersuami. Konon, kaum wanita mbojo dulu, rimpu harus dipakai ketika mereka keluar rumah. Jika tidak mereka telah melanggar hukum moral. ini diungkapkan langsung oleh Nur Farhaty Ghani dari forum perempuan (forpuan) Bima. Bukan itu saja, mereka telah melagar hukum keagaam dan adat istiadat. Akan tetapi, kaum wanita mbojo dulu tetap akan mengingat pada pelanggaran tersebut. Sebab keyakinan dan kepercayaan mereka telah menjadikan suatu kokohannya dalam mengebangkan dan menegakkan polaralitas keagamaannya.
Mbojo sangat dikenal banyak wanita pemakai rimpu, sebab rimpu memberikan suatu lambang dan polaritas sosial yang sangat tinggi. Dimana orang mbojo, ketika memakai rimpu tersebur terasa nyaman. Ini menjadikan salah satu spritual quotion oleh kaum wanita mbojo dalam menghadapi erat perkembangan kondisi zaman. Dalam mewujudkan hal semacam ini, mbojo harus mendirikan kayakinan yang kuat dalam memperetkan budaya dan adat istiadat mereka selanjutnya. Sungguh sangat menakjubkan jika masyarakat mbojo mepertahankan tradisi adat dan kebudayaan seperti ini. Sehingga mampu memperkokoh dan mempermudah untuk menciptakan kebudayaan dan adat istiadat yang penuh dengan keharmonisan.
Rimpu merupakan sebuah budaya dalam dimensi busana pada masyarakat Bima (Dou Mbojo). Budaya "rimpu" telah hidup dan berkembang sejak masyarakat Bima ada. Rimpu merupakan cara berbusana yang mengandung nilai-nilai khasyang sejalan dengan kondisi daerah yang bernuansa Islam (Kesultanan atau Kerajaan Islam). (wikipedia 2008)
Rimpu adalah cara berbusana masyarakat Bima yang menggunakan sarung khas Bima. Rimpu merupakan rangkaian pakaian yang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung. Kedua sarung tersebut untuk bagian bawah dan bagian atas. Rimpu ini adalah pakaian yang diperuntukkan bagi kaum perempuan, sedangkan kaum lelakinya tidak memakai rimpu tetapi ”katente” (menggulungkan sarung di pinggang). Sarung yang dipakai ini dalam kalangan masyarakat Bima dikenal sebagai Tembe Nggoli (Sarung Songket). Kafa Mpida (Benang Kapas) yang dipintal sendiri melalui tenunan khas Bima yang dikenal dengan Muna. Sementara sarung songket memiliki beberapa motif yang indah. Motif-motif sarung songket tersebut meliputi nggusu waru (bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli (yang bahan bakunya memakai benang rayon). ( M.Hilir Ismail 2005)
Rimpu adalah cara berpakaian kaum wanita di Bima - Dompu (Dou Mbojo), yaitu menggunakan kain sarung untuk menutupi kepala dan badan, sehingga yang terlihat hanya wajah, atau bahkan hanya bagian mata. ( Malik Hasan Mahmud 2009)
Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua lembar sarung yang bertujuan untuk menutup seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok. Sesuai penggunaannya. ( Maryam 2005)
Rimpu juga adalah sebuah bentuk pakaian yang sopan. Tentu makna kesopanan sangat relatif tergantung bagaimana masyarakat setempat memaknainya, seperti contoh pada suku Asmat di Irian Jaya, kesopanan tidak dinilai dari pakaian. Wanita dan laki-laki bebas bertelanjang dan hanya satu bagian saja dari tubuh mereka yang terbalut pakaian. Itulah yang disepakati oleh mereka. Tapi fakta tersebut tentu saja suatu perkecualian. ( Nurfaraty 2010)
Distribusi politik identitas keislaman mulai didesign sedemikian rupa oleh para mubalig, yaitu berupaya untuk memadukan budaya lokal. Seiring dengan berjalannya waktu, maka identitas itu menjadi icon tersediri guna membangun budaya baru dikalanganmasyarakat mbojo. Icon ini sedikit demi sedikit mulai disosialisasikan dikalangan istana dengan proses penetrasi yang rumit sehingga membutuhkan strategi dan upaya, yang pada akhirnya merambah ke lapisan masyarakat bawah.
Rimpu digunakan oleh mereka yang sudah balig atau menikah, dalam agama atau trend sekarang disama artikan dengan kerudung. Namun pada beberapa refrensi, kerudung di Indonesia baru terkenal pada tahun 1980-an. Rimpu memiliki multifungsi dalam menyikapi jamannya pada saat itu. Pertama, rimpu merupakan identitas keagamaan, sehingga pada bagian ini dengan adanya perkembangan dakwah di Bima yang cukup pesat, maka kaum wanita mulai mempelajari dan memaknainya sebagai suatu nilai-nilai luhur.
Kedua, Rimpu dikombinasikan dengan budaya lokal masyarakat pada saat itu yaitu kebiasaan menggunakan sarung tenun dalam aktifitas sosial. Intergrasi ini menjadikan icon budaya Bima yang mulai berkembang. Ketiga, Proteksi diri kaum hawa ketika melakukan interaksi sosial. Klimaks kondisi ini terjadi ketika jaman kolonial Belanda dan Jepang. Keempat, rimpu merupakan alat pelindung terhadap kondisi lingkungan yang buruk, disisi lain juga Pembajakan Makna dan Budaya. Rimpu, terdiri dari 2 model, yaitu pertama Rimpu mpida,, khusus buat gadis Bima atau yg belum berkeluarga. Model ini juga sering disebut cadar ala Bima,, Dalam kebudayaan masyarakat Bima, wanita yg belum menikah tidak boleh memperlihatkan wajahnya, tapi bukan berarti gerak-geraknya dibatasi. Hal ini menunjukan budaya yang diciptakan oleh para mubalig sudah mengakar sampai pelosok desa. Namun dengan moderenisasi yang salah diartikan membuat identititas tersebut rapuh termakan jaman, sungguh menyayangkan. Kedua Rimpu colo,, rimpu jenis ini diperuntukan buat ibu-ibu rumah tangga. Toleransi agar mukanya sudah boleh kelihatan oleh masyarakat luas. Di pasar-pasar tradisional, masih bisa ditemukan ibu-ibu yang memakai rimpu dengan sarung khas dari bima (tembe nggoli).
Kesimpulan
Budaya rimpu merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri khas masyarakat Bima. Rimpu bagi kaum wanita di Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai Rimpu Mpida—yang artinya seluruh anggota badan terselubung kain sarung dan hanya mata yang dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka kemudian menyisakan ruang terbuka pada bagian mata. Sedangkan bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai Rimpu Colo. Dimana bagian muka semua terbuka. Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada bagian perut dan membentuknya.
Perempuan-perempuan Bima enggan untuk keluar rumah jika tidak mengenakan Rimpu, ia tidak saja budaya tapi implementasi dari syariat islam.
Sumber :
- Bima Center. 2012. Tembe Nggoli
- Rihlah Nur Aulia, Rimpu: Budaya Dalam Dimensi Busana Bercadar Perempuan Bima
- Nurfati , Mengenal Budaya Rimpu Pada Perempuan Bima Bima: 2010 ( tidak di terbikan makalah pada diskusi kebudayaan yang di selenggarakan oleh forum perempuan Bima)
Komentar
Posting Komentar